METRUM
Jelajah Komunitas

Pangandaran Menyimpan Sejumlah Potensi

BENTANG alam Jawa Barat ­menyimpan sejumlah ­potensi, tidak terkecuali berkaitan dengan pariwisata. Khusus untuk wilayah selatan, ­Pangandaran menjadi salah satu ikon sekaligus ­destinasi yang terbilang ­paling diminati. ­Beberapa waktu ­terakhir, upaya ­pembenahan terus ­dilakukan. ­Harapannya, langkah itu bisa menaikkan ­kelas Pangandaran menjadi destinasi ­wisata kelas dunia.

”MImpi saya ada­lah menjadikan ­Pangandaran sebagai tujuan wisata dunia,” ujar Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata. Ia ditemui di sela kesibukannya di Kota Bandung, Rabu (10/10/­2018). Sejak puluhan tahun silam, Pangandaran memang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata yang diminati banyak kalangan. Hal itu tidak terlepas dari sejumlah keunikan yang dimiliki. Dengan kontur wilayah Pangandaran misalnya, wisatawan bisa melihat matahari terbit di pinggir pantai pada pagi hari. Kemudian pada petang hari, di sisi pantai lain mereka bisa juga menikmati matahari terbenam.

Jeje mengatakan, sebagai wilayah pemekaran yang baru berdiri pada 2012 silam, ekspektasi masyarakat menjadi demikian besar. Pemerintah Kabupaten Pangandaran perlu bertanggung jawab mengupayakan harapan masyarakat tersebut.

Cara yang dipilih adalah dengan memf­okuskan pembangunan terhadap dua hal sebagai prioritas, yaitu peme­nuhan kebutuhan dasar masyarakat serta pengembangan potensi pariwisata, sebagai perekonomian utama.

”Ada dua persoalan yang kita fokus­kan. Pertama adalah persoal­an-per­soal­an mendasar, pendidikan, kesehatan ­infrastruktur, dan sebagainya. Kedua, bagaimana kita mengembangkan po­tensi yang ada, ya wisata. Pangandaran bagaimanapun sudah menjadi destinasi wisata di Jawa Barat,” katanya.

Dia menambahkan, dari sisi kontur wilayah, pariwisata menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten Panganda­ran. ”Kita ­punya potensi. Dari 10 kecamatan, kita punya pantai sepanjang 93 kilometer. Dari 10 kecamatan, 6 kecamatan punya laut. Itu identik dengan perikanan dan pariwisata,” katanya.

Dengan demikian, pengembangan potensi wisata perlu terus dilakukan. Sejumlah persoalan pun menjadi tan­tangan. Di satu sisi, dia mengakui, jarak Pangandaran terbilang jauh dari sejumlah kota besar seperti Bandung atau Jakarta, sebagai lokasi asal wisatawan. Untuk jalur darat, diperlukan waktu sekitar 6 jam hingga 8 jam perjalanan dari Bandung, atau 8 jam hingga 10 jam dari Jakarta.

Persoalan berikutnya berkaitan de­ngan kondisi masyarakat setempat. Ma­sih ada kalangan tertentu yang melaku­kan kegiatan atau berperilaku yang ber­tentangan dengan prinsip-prinsip wisata. Dia mencontohkan, keberadaan pedagang kaki lima di bagian pinggir pantai membuat kawasan itu menjadi cenderung kumuh.

Kemudian, ada pula masyarakat yang memanfaatkan keadaan, misalnya de­ngan menaikkan harga jual suatu produk pada saat periode puncak kunjung­an pelancong. Hal-hal seperti itu bisa membuat wisatawan tak nyaman, bah­kan enggan kembali ke Pangandaran.

Pembenahan bertahap

Oleh karena itu, sejak menjabat sebagai bupati pada tahun 2016, Jeje menyiapkan konsep pembenahan atau pena­taan secara bertahap.

”Saya mencoba membagi waktu lima tahun ini untuk melaku­kan penataan. Tahun pertama meyakinkan dulu masyarakat bahwa pariwisata itu adalah kegiatan atau pola kebijakan yang bisa mendatangkan uang yang tak ada musimnya. Siapa saja bisa melibat­kan diri dan mengambil manfaat dari kegiatan wisata,” katanya.

Pada tahapan berikutnya, pembenah­an fisik mulai dilakukan dengan mere­lokasi sejumlah pedagang kaki lima yang selama ini berjualan di pinggir pantai. Tercatat sekitar 1.366 pedagang kaki ­lima yang berjualan dengan menggunakan tenda biru. Mereka menjual berbagai kebutuhan wisatawan, mulai dari makan minum, pakaian, hingga cendera mata. Terhitung sejak Februari 2018, seluruhnya dialihkan ke bagian dalam sehingga tidak mengganggu keindahan bibir pantai.

Solusi

Sebagai solusi, disiapkan tiga titik gedung untuk relokasi pedagang itu. Jaraknya tak terlampau jauh dari lokasi berjualan semula. Namun dengan relo­kasi, kawasan itu menjadi lebih tertib. Selama masa transisi dan perpindahan, dia mengakui, tantangan tetap ada. Tak mudah mengubah pola yang sudah berjalan ke sebuah pola baru yang memerlukan penyesuaian.

”Ada dinamika, tapi masih dalam ba­tas wajar. Tidak ada bentrok,” ujarnya.

Dia pun mengakui, upaya yang dimaksud tidak hanya berhenti pada ta­hap relokasi. Tujuan penataan ini b­u­kan sekadar ”membersihkan” kawasan pantai, tapi juga membuat masyarakat pedagang tetap berdaya dan bisa meng­ambil nilai manfaat dari pariwisata.

”Saya juga yakin kalau mereka tidak laku (di tempat baru, setelah relokasi), akan pindah lagi (berjualan di pinggir pantai). Maka, harus diatur lalu lintas tamu agar mereka datang ke sana, ke tempat relokasi,” kata Jeje.

Perkembangan positif ini perlu terus disikapi dengan membenahi aspek-aspek lain. Jeje mengatakan, saat ini sejumlah ruas jalan sudah diperbaiki, ba­ik akses ke Pantai Pangandaran sebagai basis utama, ataupun sejumlah pantai lain yang juga menjadi daya tarik.

Infrastruktur pendukung juga disiapkan, di antaranya mengenai layanan kesehatan. Saat ini, Puskesmas Panganda­ran sudah terbilang layak untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warga, baik pengunjung maupun wisatawan.

Amfiteater & Piamari

Beberapa waktu silam, Gubernur Jabar Ridwan Kamil sudah memberi­kan respons positif. Salah satunya berupa bantuan anggaran hingga Rp 65 mili­ar untuk membantu penataan Pa­ngandaran pada 2019.

Anggaran itu sedianya akan diguna­kan untuk membenahi wajah Pangandaran, sejak mulai pintu masuk ka­wa­san hingga di bagian dalam. Saat ini masih dibahas mengenai perincian fisik pembenahan yang dimaksud, termasuk berkaitan dengan ciri khas yang mewa­­kili kearifan lokal Pangandaran.

Sejumlah infrastruktur tambahan juga tengah disiapkan, di antaranya berupa amfiteater. Seperti diketahui, pariwisata tidak cukup hanya dengan meng­­andalkan aspek alami sebuah ka­wasan. Diperlukan pula daya tarik berupa kegiatan atau atraksi yang diminati oleh wisatawan. Amfiteater menjadi salah satu alternatif sarana untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Daya tarik lain juga disiapkan dengan melibatkan sejumlah pihak. Salah satu­nya adalah Pangandaran Integrated Aquarium and Marine Research Institute (Piamari), sebagai bagian dari program pemerintah pusat melalui Kemen­terian Kelautan dan Perikanan. Piama­ri, yang ditargetkan mulai beroperasi tahun depan.

Tempat foto dan sampah

Salah seorang wisatawan asal Kota Bandung, Isma (34), menilai bahwa perubahan fisik di kawasan Pangandaran sejauh ini sudah mulai terlihat. Dia ber­pendapat, hal itu perlu diapresiasi meski belum sepenuhnya bisa memenuhi harapan wisatawan.

Dia mencontohkan, saat ini terdapat sejumlah titik yang bisa menjadi landmark kawasan. Sesaat sebelum pintu masuk kawasan Pangandaran, terdapat patung ikan marlin cukup besar. Hal itu menjadi penanda kawasan. Kemudian di bagian dalam, sisi pantai timur, terdapat sebuah taman dengan disertai tulisan ”Panganda­ran Sunset” berukur­an besar. Lokasi itu cukup nyaman bagi wisatawan untuk sekadar duduk-duduk hingga mengambil foto.

Di sisi lain pantai, terdapat pula tulisan ”Pangandaran Sunrise” yang bisa menjadi penanda foto saat wisatawan mengambil gambar matahari terbit pada pagi hari. ”Lumayan bagus, sekarang kan zaman medsos (media sosial). Orang ke mana-mana pengen difoto, diunggah ke medsos, di sini titik foto itu ada,” katanya.

Di sisi lain, keberadan titik foto ini juga secara langsung bisa membantu promosi Pangandaran. Oleh karena itu, keberadaannya perlu dijaga atau bahkan ditambah.

Berkaitan dengan kenyamanan, dia menambahkan, salah satu hal yang menjadi perhatian dia adalah kebersih­an. Dia mengakui, sejumlah infrastruktur kebersihan berupa tempat sampah sudah disiapkan di sejumlah titik. Petugas kebersihan pun beroperasi untuk menjaga kawasan.

Hanya sampah masih berserak di beberapa titik. Dia ber­pendapat, infrastruktur saja tidak cukup. Perlu ada ­upa­ya tambahan agar budaya masya­rakat dalam menyikapi sampah bisa membaik.(Sumber: Pikiran Rakyat, 15/10/2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan