METRUM
Jelajah Komunitas

PSM Bike Tracking Club Bandung, Menolong Sambil ”Gowes”

MENOLONG tidak perlu harus kenal dulu. Itulah prinsip yang ditanamkan pada diri anggota komunitas sepeda PSM Kota Bandung. Tidak heran jika anggota PSM, langsung turun dari sepedanya jika melihat pengendara sepeda lain yang membutuhkan bantuan. Pertolongan yang diberikan tidak sekadar membantu membetulkan rantai sepeda yang putus atau mengencangkan baut dan mur, tetapi juga hingga memberikan ban dalam jika diperlukan.

”Ya siapa tahu dengan sering membantu pengendara sepeda lain, kami juga dengan mudah memperoleh pertolongan saat mengalami kerusakan di jalan. Selain itu, efek langsung dengan memberi pertolongan, kita jadi banyak mengenal orang dan bisa diajak bergabung menjadi anggota,” kata Muhammad Setiawan, ketua PSM Bike Tracking Club Bandung.

PSM Bike Tracking Club Bandung secara resmi terbentuk pada tahun 2006. Awalnya hanya sekelompok pencinta sepeda yang suka berkumpul di Hari Sabtu dan Minggu. Sebelum berkeliling Kota Bandung, atau menuju daerah sasaran, mereka berkumpul di Jalan PSM (pabrik senjata dan mesiu) kawasan Pindad Kiaracondong Kota Bandung. Seringnya mereka berkumpul di Jalan PSM, akhirnya komunitas sepeda itu disepakati dengan nama PSM Bike Tracking Club Bandung.

Anggota PSM Bike Tracking Club Bandung tidak terbatas pada masyarakat kawasan Kiaracondong. Komunitas sepeda itu sudah menarik warga asal Lembang, Cijerah, Kopo, Setiabudhi, Cigadung, Riung Bandung, Cibiru, Cimahi, Holis, Rancaekek, bahkan ada juga dari luar kota seperti Sumedang, Garut, dan Ciamis. Komunitas sepeda ini juga sering diminta bantuan jika ada komunitas sejenis dari Kota Jakarta ingin jalan-jalan atau menjajal kawasan Bandung yang dianggap menantang.

”Kami sering mengantar komunitas sepeda dari Jakarta jika ingin jalan-jalan di Bandung. Terserah permintaan mereka, mau melintas di rute datar seputar kawasan Kota Bandung atau daerah penuh tanjakan yang ada di pinggiran Bandung. Tetapi kebanyakan mereka ingin rute yang ada tanjakannya, karena di Jakarta lebih sering di rute datar,” ujar Muhammad Setiawan yang biasa dipanggil Wawan.

Wawan mengungkapkan, anggota PSM Bike Tracking Club Bandung sebagian besar berusia lanjut. Rata-rata di atas 50 tahun. Paling tua ada yang berumur 73 tahun. Meskipun begitu, komunitas ini membuka juga untuk remaja dan wanita. ”Yang paling tua Pak Gozali, sedangkan yang remaja, Aldi baru berusia empat belas tahun. Untuk anggota wanita memang baru ada tiga, yakni Ibu Evi, Ibu Winda, dan Intan,” tutur Wawan.

Gozali menambahkan, keanggotaan PSM Bike Tracking Club Bandung memang tidak banyak batasan. Bebas saja, mau tua atau muda bisa bergabung. Perempuan juga bisa ikut. Uniknya lagi, selain tidak mengenal batasan usia dan jenis kelamin, anggota PSM Bike Tracking Club Bandung juga tidak membatasi agama dan suku. Demikian juga dengan profesi para anggota, sangat bervariasi.

”Profesi anggota kami sangat bermacam-macam. Ada pengusaha, dosen, sopir, pelajar/mahasiswa, jurnalis, hingga polisi. Semuanya membaur tanpa mengenal batasan. Kami semuanya merasa bersaudara. Jangankan sesama anggota, dengan pengendara sepeda lainnya pun, kami terbiasa memberikan pertolongan,” kata Gozali.

Saling membantu itu, dirasakan pula oleh Uyun, Pupuh, Aswan, Pepen, Edi, Sobari, Yusuf, Ruhyat, Wawan, Darwin, Iyan, dan Heri. Mereka yang dianggap senior itu, tidak hanya mengajarkan teknik bersepeda yang sehat, tetapi juga memberikan contoh kepada juniornya dan mengingatkan agar jangan segan memberikan pertolongan. Selain diadakan pertemuan rutin untuk bersepeda, untuk menjalin dan memupuk kebersamaan di antara mereka juga dirancang suatu ajang silaturahmi semacam pengajian dan mengunjungi anggota yang sakit atau membutuhkan bantuan.

Sejak resmi dibentuk tahun 2006, PSM Bike Tracking Club Bandung mulai memberlakukan kartu anggota pada tahun 2009. Jumlah pemilik kartu anggota itu mencapai ratusan, tetapi yang aktif dalam pertemuan rutin setiap Minggu, sekitar 150 orang. Dengan memiliki kartu anggota itu, PSM Bike Tracking Club Bandung bisa menarik iuran anggota yang disepakati Rp 10.000/bulan.

”Dari uang iuran tersebut, anggota sudah banyak menerima manfaatnya. Misalnya, bisa mendapatkan onderdil sepeda jika mengalami kerusakan. Uang iuran itu juga dimanfaatkan untuk kegiatan silaturahmi, seperti pengajian atau membantu anggota yang sakit. Sayangnya, sedikit saja anggota yang sadar membayar iuran. Jadi kalau ada kegiatan lebih banyak mengandalkan donatur,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, PSM Bike Tracking Club Bandung tidak mengesampingkan kegiatan sosial lainnya. Jadi, anggota PSM Bike Tracking Club Bandung tidak hanya bersepeda tetapi juga aktif di kegiatan kemasyarakatan. Di antaranya, mereka siap membantu masyarakat yang tertimpa bencana alam. ”Jadi dengan bersepeda, kami tidak hanya mendapatkan kesehatan jasmani dan rohani. Tetapi juga memperoleh rasa tolong-menolong dan membangun kebersamaan,” kata Wawan. (Sumber: “PR” 15/5/11)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: