METRUM
Jelajah Komunitas

(Re)aksi Remaja Gelar Workshop Produksi dan Post Produksi Audio

(RE)AKSI Remaja, Metrum Radio, dan Serat Pena mengadakan Workshop Produksi dan Post Produksi Audio untuk Podcast secara daring menggunakan Google Meet pada Minggu, 6 September 2020, selama 2 jam, mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB. Pelatihan tersebut disiarkan secara langsung di YouTube.

Pelatihan ini dibuka Rhaka Katresna selaku produser program acara (Re)aksi Remaja. Workshop ini merupakan upaya untuk memberdayakan remaja Garut dan sekitarnya guna memperoleh keterampilan produksi audio untuk Podcast.

Pelatihan ini dihadiri 14 peserta dari Garut dan Bandung. Melalui komentar di siaran langsung YouTube, terdapat peserta dari Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Dyah Murwaningrum selaku pemateri memulai workshop dengan bahasan mengenali bunyi dan suara.

Pemateri yang akrab disapa Mbak Dy ini menjelaskan mengenai organ telinga dan memahami lemah-kuatnya bunyi.

Bunyi adalah akibat dari sebuah kejadian, bunyi mengalir dan tidak pernah bisa sama saat diulang. Bunyi bisa ditangkap oleh indra pendengar jika memenuhi syarat. Pada kasus tertentu bunyi dapat melukai pendengaran.

Dyah juga menerangkan tentang pentingnya peralatan dalam produksi audio dan memberi saran untuk memperhatikan perangkat audio yang tepat untuk rekaman.

Ihwal penggunaan mic, Dyah menjelaskan soal pedoman penggunaan mikrofon. Pada dasarnya, semua mikrofon bisa digunakan atau berfungsi. Yang dihindari adalah penggunaan headset, mikrofon dengan tombol on/off dan mikrofon meja.

Jika 2 orang berkomunikasi, kenali benar kemampuan mic dalam menangkap arah dan jika mic hanya menangkap 1 arah, guest dan host sebaiknya dari arah yang sama.

Perangkat lunak yang digunakan untuk produksi audio disebut digital audio workstation. Terdapat berbagai macam aplikasi yang disebutkan oleh Dyah. Beberapa di antaranya adalah Audacity, Garage band, Protools, Reaper, DAW, dan lainnya.

“Karena kita hidup di negara agraris usahakan kita tidak membajak software yang kita gunakan,” ucap Dyah sambil bercanda.

Menanggapi pernyataan itu, Rhaka bertanya mengenai risiko penggunaan aplikasi bajakan.

“Tampaknya tidak ada tetapi kita merasa punya tanggung jawab sosial… rasanya seperti berdosa gitu jika mencuri hasil karya orang,” tukas Dyah, menanggapi masih maraknya pembajakan software saat ini.

Setelah sesi pemaparan, diskusi dan tanya jawab, di bagian akhir dilanjutkan praktik langsung penggunaan aplikasi Audacity dipandu pemateri.

Lebih jauh, peserta juga mendapat materi mengenai lisensi lagu dan bagaimana cara memperlakukannya. Di dalamnya, termasuk bagaimana membedakan lagu no copyright dan yang perlu diberikan atribusi. (Sapitri Sri Mustari)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: