METRUM
Jelajah Komunitas

Tradisi Bersirih Eratkan Silaturahmi yang Terkikis Zaman

MENGINANG atau bersirih atau nyeupah (basa Sunda) telah ada sejak ribuan tahun lalu di Nusantara. Sirih atau piper betel merupakan tanaman tropis yang tumbuh di pantai Afrika, daratan India, Cina, Asia Tenggara, Australia bagian utara, dan Pasifik.

Orang Melayu ada yang menyebutnya sirih atau sireh, sedangkan orang Sunda menyebutnya seureuh. Sedangkan Istilah menginang atau menyirih adalah aktivitas mengunyah racikan daun sirih, pinang dan kapur, namun dalam perjalanannya ada juga yang dicampur gambir, kapulaga, cengkeh atau tembakau.

Kebiasaan menginang dapat ditemui dilingkungan masyarakat di Sumatera hingga Papua. Di Jawa, sebagian besar orang nginang tanpa pinang dan menggunakan kapur mentah (basah). Sementara di Papua dan Nusa Tenggara kapur yang digunakan justru kapur kering.

Meski tidak diketahui kapan tepatnya praktik mengunyah sirih dimulai. Namun dalam catatan, Anthony Reid (1985) mengungkapkan bahwa dari catatan para musafir Cina, sirih dan pinang sudah dikonsumsi sejak dua abad sebelum Masehi dari bagian bersirih pinang atau betel-chewing. Sementara, pada 1521, menurut kesaksian Antonio Pigafetta, masyarakat Nusantara mengunyah sirih dan pinang secara terus menerus.

Pada kesempatan lain, seorang peneliti Denny Lombard mencatat bahwa pada medio 1620-1621, melalui kesaksian Augustin de Beaulieu saat mengunjungi Kesultanan Aceh, Sultan Iskandar Muda menyuguhkan bejana besar dari emas yang penuh dengan sirih. Menyuguhkan sirih dan pinang menjadi bentuk penghormatan kepada tamu. Di Kalangan bangsawan, sirih pinang kerap disuguhkan ketika raja menjamu tamu-tamu asing.

Ada banyak versi mengenai awal munculnya budaya bersirih ini, seperti dikutip dari goodnewfromindonesia, dalam sebuah legenda asal Bugis, Sawerigading menyebutkan jika I Lagaligo, kerap kali mengunyah sirih sebagai sarana untuk menenangkan diri. Sedangkan dalam hikayat Batak menyebutkan adanya tanaman sirih sebagai tanda kebesaran ilmu medis Batak Kuno. Selain itu, pada Kitab Negarakertagama, keberadaan sirih konon kerap dijumpai sebagai sarana perjamuan antara para raja.

Sejarah menginang di Nusantara dapat dilihat juga dari temuan artefak di Pasiran, Lumajang Jawa Timur. Artefak tempat penyimpanan Sirih Pinang berumur ratusan tahun ini memiliki bodi silindris yang dihias di kaki dan bahu serta tutup dengan pegangan berbentuk kepala humanoid. Pegangan seperti telinga dan rambut yang digambarkan sebagai rangkaian garis vertikal merupakan bagian dari desain. Sayangnya, kini artefak tersebut tersimpan di Metropolitan Museum of Art, di New York, Amerika Serikat.

Sajian sirih, pinang, dan tembakau sendiri telah menjadi pelengkap dalam hampir setiap upacara adat atau ritual di Nusantara, seperti pernikahan, kelahiran, penyembuhan hingga upacara kematian.

Sirih Pinang juga menjadi suatu simbol dan sarana petatah-petitih bagi masyarakat adat Melayu. Hal ini dilihat dari tradisi lisan Melayu berupa sastra, misalnya: Sirih pembuka pintu rumah, Sirih pembuka pintu hati. Tidak hanya itu, di masyarakat Papua dan Nusa Tenggara misalnya, sirih, pinang, dan tembakau sudah menjadi ‘barang wajib’. Menginang tidak mengenal usia dan gender, menjadi media sosial sekaligus perekat hubungan silaturahmi.

Menginang, bersirih atau nyeupah di Nusantara memiliki beberapa fungsi, menginang sama halnya dengan merokok, minum teh dan kopi. Awalnya orang menginang sebagai penyedap di mulut, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang menimbulkan kenikmatan sehingga sulit untuk dilepaskan.

Di samping untuk kenikmatan, menginang juga berfungsi sebagai aktivitas pengobatan merawat gigi, menguatkan gigi, menyembuhkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut, menghentikan pendarahan gusi, serta sebagai obat kumur.

Fungsi menginang lainnya sebagai tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Misalnya, penghormatan untuk tamu, dan sebagai alat pengikat dalam pertunangan sebelum menikah. Menginang juga digunakan sebagai sesaji yang digunakan dalam upacara adat istiadat dan upacara kepercayaan atau religi. (Vey si Sendal Jepit)*** 

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: