METRUM
Jelajah Komunitas

Abbeu Gow3sh: ”Aya Bubur, Eureun”

ADA sesuatu yang bisa membuat orang ketagihan bersepeda. Bukan hanya karena olah raga ini disinyalir dapat mengurangi risiko berbagai penyakit, tetapi juga karena dengan bersepeda, kita bisa melakukan wisata kuliner, juga bisa bertemu dengan banyak teman, relasi, saudara, dan lain-lain.

Terlebih sekarang, sepeda mulai digandrungi hampir semua kalangan masyarakat. Tua, muda, anak-anak, lelaki, perempuan, semuanya mulai menyukai olah raga bersepeda.

Toko-toko penjual sepeda pun mulai ramai diserbu pembeli, dari sepeda biasa, sepeda untuk olah raga, sepeda unik untuk gaya, hingga sepeda zaman dulu atau yang biasa disebut sepeda ontel.

Apalagi, setelah kawasan Dago di Kota Bandung dibuka sebagai area Car Free Day (CFD) setiap Minggu pukul 6.00-10.00 WIB, jumlah masyarakat Kota Bandung yang melakukan olah raga bersepeda makin menjamur saja. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung pun kemudian membuka satu lagi area CFD, yaitu di kawasan Buahbatu.

Jenis olah raga yang dilakukan masyarakat pun kemudian menjadi berkembang, yang tadinya hanya bersepeda dan jalan kaki, sekarang mulai banyak yang melakukan olah raga senam kebugaran, aerobik, skate, sepatu roda, dan lain-lain.

Walaupun demikian, sepeda tetap menjadi olah raga primadona. Bukan hanya bagi masyarakat Kota Bandung, melainkan juga bagi warga daerah sekitarnya, seperti warga Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

Sengaja ke Bandung

Banyak yang sengaja datang ke Kota Bandung hanya untuk bersepeda dengan teman-teman lamanya atau dengan saudara-saudaranya. Apalagi, Kota Bandung memang dikenal dengan keragaman wisata kulinernya, maka lengkap sudahlah perjalanan wisatawan domestik di Bandung.

“Setelah gowes, biasanya kami sarapan di bubur ayam Gelora Saparua,” kata Riza Aulia (46), warga Jakarta yang sering ke Bandung hanya untuk bersepeda. Riza biasanya bersepeda di Bandung dengan Henri Dermawan (46), bersama teman-teman sekolahnya dulu.

Kegiatan-kegiatan semacam inilah yang kemudian memun­culkan komunitas-komunitas di Bandung. Dengan didukung perkembangan dunia teknologi informasi kini, terbentuknya komunitas di Kota Bandung semakin mudah berkembang.

Ada komunitas dengan nama sekolahnya yang berasal dari kegiatan reuni. Ada juga komunitas yang memakai nama daerah tempat mereka berkumpul semasa sekolah dulu. Atau komunitas yang tanpa nama, asal jalan, tetapi sering berkegiatan, sering kumpul.

Orang Bandung memang kreatif. Sedikit nyeleneh dalam hal memberikan nama pada komunitasnya. Ada komunitas sepeda Abbeu Gow3sh atau M4tador. Agak asing terdengar memang. Apalagi kalau tahu artinya, minimal orang akan tersenyum mendengarnya.

Ya, nama “Abbeu” adalah singkatan dari “Aya Bubur Eureun”. Karena komunitasnya merupakan komunitas sepeda, nama komunitasnya menjadi Abbeu Gow3sh. Mengapa nama itu yang muncul, karena memang awalnya anggota mereka selalu berhenti bila di perjalanan melihat pedagang bubur ayam, dan mereka semua kemudian sarapan bubur ayam bersama-sama.

Sementara nama M4tador diambil dari singkatan pula, yaitu “Manggih Tanjakan Dorong”. Nama ini pun muncul karena awalnya para pesepeda yang rata-rata pria paruh baya itu tidak mampu menggenjot sepedanya kala tiba di tanjakan. Dengan demikian, yang terjadi kemudian adalah mendorong sepedanya masing-masing. (Milly Malia, Sumber: Pikiran Rakyat 04-09-2011)***

komentar

Tinggalkan Balasan