METRUM
Jelajah Komunitas

Dispora dan MCR PKBI Jawa Barat Bangun Ruang Pemberdayaan Anak Muda

DINAS Pemuda Olahraga (DISPORA) Kota Bandung bekerjasama dengan Mitra Citra Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (MCR PKBI) Jawa Barat mengadakan acara Youth Empowerment Space: Pemuda Peduli, Kreatif, Sehat, Inovatif, dan Inklusif. Kegiatan yang berjargon “Representatif, Yes!” ini diselenggarakan pada Kamis, 8 April 2021 di Greko Creative Space Jl. Jendral Ahmad Yani No. 136, Malabar, Kota Bandung.

Penulis bersama perwakilan pemuda dari Arjuna Pasundan dan Balad Pasundan (Dok. Penulis).*

Kegiatan ini dihadiri berbagai macam komunitas dan organisasi anak muda di Kota Bandung. Beberapa di antaranya adalah Toa Damai, Arjuna Pasundan, Balad Pasundan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, PIKMA, Pemuda Demokrat, Forum Komunikasi Siswa Kota Bandung, Formula, KOMPAKS dan masih banyak lagi.

Kegiatan dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. Setiap peserta diperiksa suhu kemudian dibekali masker dan hand sanitizer oleh panitia di meja registrasi.

Produser Toa Damai Faris Dzulfiqar bersama rekan Mitra Citra Remaja Jawa Barat (Dok. Penulis).*
D. Anisa Sunija (paling kanan) sebagai koordinator Mitra Citra Remaja Jawa Barat dan narasumber talkshow sesi 1 bersama rekan MCR PKBI Jawa Barat (Dok. Penulis).*

Nilai Strategis dalam Membangun Kemitraan

Sambutan dari Dadang Setiawan Kabid Pemuda Dispora Kota Bandung (Dok. Penulis).*

Kegiatan dimulai pukul 9.30 WIB dan acara dibuka Dadang Setiawan selaku Kepala Bidang Pemuda Dispora Kota Bandung.

Dalam sambutannya, Dadang Setiawan mengatakan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis untuk pemerintah dan komunitas anak muda dalam membangun kemitraan.

Eddy Marwoto, Kepala Dispora Kota Bandung (Dok. Penulis).*

Sementara itu, Kepala Dispora Kota Bandung, Eddy Marwoto mengungkapkan dalam sambutan, “Masa depan suatu kota dan komunitas dipengaruhi sepak terjang pemudanya itu sendiri”.

Eddy menambahkan, bahwa pemuda juga perlu untuk membaca dan memanfaatkan peluang sebaik mungkin di masa mudanya.

Remaja Keren Tanpa NAPZA

Talkshow pertama dipandu oleh narasumber AIPTU Qory dari POLDA Jawa Barat. Ia menjelaskan berbagai landasan hukum mengenai Narkoba. Menurut Qory, kini POLDA Jawa Barat menerapkan pendekatan penanganan kasus yang baru yakni restorative justice. Dalam proses hukum yang diterapkan lebih mengarah kepada rehabilitasi dan dipulangkan ke rumah untuk pemulihan pada pengguna NAPZA.

AIPTU Qory (Dok. Penulis).*

Qory menambahkan, POLDA sudah bekerjasama dengan Dispora Kota Bandung dan KOMPAKS (Komunitas Peduli AIDS dan Narkotika) dalam menghadapi stigma mengenai pelaporan penyalahgunaan narkoba dan mendorong pengakuan masyarakat mengenai isu narkoba. Pelapor akan dilindungi dan data identitasnya aman.

Ulfa Prasatya dari KOMPAKS menyampaikan talkshow kedua dengan topik “Remaja Keren tanpa NAPZA”. Ulfa menjelaskan peran remaja dalam memahami NAPZA dan mendorong pencegahan penggunaan NAPZA. Berbagai jenis NAPZA diperkenalkan dan terdapat berbagai jenis dan efek dari NAPZA terhadap tubuh manusia.

Ulfa Prasatya dari KOMPAKS (Dok. Penulis).*

Ulfa juga memaparkan 5 masalah umum yang biasanya dialami remaja:

  1. Kesulitan dalam hubungan dengan orangtua.
  2. Masalah keretakan keluarga.
  3. Masalah dengan teman sebaya.
  4. Kesulitan belajar dan mendapatkan pekerjaan.
  5. Masalah penyalahgunaan obat.

Setelah sesi talkshow dari dua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan ISHOMA selama 60 menit. Peserta mendapatkan makan siang. Protokol kesehatan diterapkan dalam pengambilan konsumsi. Peserta mengantri sampai 10 orang untuk satu gelombang pengambilan konsumsi.

Remaja dan serba-serbinya

Setelah jeda istirahat, workshop dilanjutkan Titeu Herawati, pemateri dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat. Titeu memaparkan karakteristik remaja (mulai tahun 1995) sebagai berikut:

  1. Fasih teknologi
  2. Fokus pada diri sendiri
  3. Merasa kemampuan diri kurang
  4. Optimis
  5. Cara belajar visual
  6. Ekspresif
  7. Berwawasan luas
  8. Daya tahan kurang
  9. Rentang perhatian singkat
  10. Instan
Titeu Herawati (Dok. Penulis).*

Titeu menjelaskan bahwa komunikasi asertif diperlukan oleh remaja. Komunikasi asertif adalah komunikasi yang jujur dan tegas dengan cara yang sopan. Keterampilan tersebut berbeda dengan melakukan agresi ketika remaja melakukan kekerasan kepada lawan bicaranya.

Remaja memiliki perilaku resiko. Perilaku tersebut dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Titeu menyinggung juga terkait resiko dalam pacaran remaja. “Perlu ingat ya, bahwa perempuan bukanlah objek laki-laki, apalagi dengan alasan cinta,” ujar Titeu mengingatkan para peserta wanita.

Di akhir sesi workshop pertama, Titeu menjelaskan mengenai 8 masalah kesehatan remaja dan 10 komponen keterampilan sosial yang perlu dikembangkan remaja. 8 Masalah kesehatan remaja adalah sebagai berikut:

  1. Kesehatan jiwa
  2. Kekerasan dan cidera
  3. Gizi
  4. HIV dan AIDS
  5. Kesehatan seksual dan reproduksi
  6. Sanitasi dan kebersihan individual
  7. Penyakit tidak menular
  8. Zat adiktif

Dan, 10 Komponen Keterampilan Sosial adalah sebagai berikut:

  1. Kesadaran diri
  2. Empati
  3. Pengambilan keputusan
  4. Pemecahan masalah
  5. Berpikir kritis
  6. Berpikir kreatif
  7. Komunikasi efektif
  8. Hubungan interpersonal
  9. Pengendalian emosi
  10. Mengatasi stres

Gerakan Pemuda dan Inklusi Sosial

Sesi workshop berikutnya disampaikan oleh Anisa D. Sunija. Ia merupakan wakil Indonesia di pertemuan International Planned Parenthood Federation 2021 dan Asia Pacific Forum on Sustainable Development 2021. Materi yang disampaikan adalah Gerakan Pemuda dan Inklusi Sosial.

Anisa D. Sunija (Dok. Penulis).*

Terdapat 5 nilai bersama dalam membangun inklusi sosial. Pertama, melibatkan peran orang muda dalam memperjuangkan inklusi sosial; Kedua, menyampaikan dan memberdayakan lingkungan yang kondusif bagi komunitas.

Ketiga, peran organisasi masyarakat sipil, masyarakat umum, dan pihak lain yang terlibat dalam inklusi sosial; Keempat, memperjuangkan pemenuhan hak dan peningkatan kesejahteraan kaum marjinal; dan Kelima, melakukan advokasi kebijakan publik.

Fasilitator yang akrab dipanggil Denisa itu mengajukan jargon (YOU)TH POWER. Bahwa kini saatnya anak muda melakukan aksinya. “Mari merakit bersama!” ucapnya. Merakit yang dimaksud Denisa adalah muda, berani dan inklusif. Denisa memulai diskusi dengan pertanyaan “Langkah inklusi apa yang sudah dilakukan?” Peserta dari Arjuna Pasundan, @lingkarsetara, dan PIKMA UIN Bandung berbagi mengenai upaya inklusi yang sudah dilakukan.

Di akhir sesi workshop kedua ini, Denisa memperkenalkan profil dari MCR PKBI Jawa Barat. MCR PKBI Jawa Barat fokus pada isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja serta Inklusi Sosial. Aktivitas yang sudah dilakukan termasuk gerakan inklusi sosial, informasi dan edukasi HKSR, youth network, dan masih banyak lagi. Setelah beberapa tahun vakum, MCR PKBI Jawa Barat mulai kembali aktif sejak tahun 2019.

Kekuatan Anak Muda

Sesi ketiga workshop diawali dengan nonton potongan film “Finding Nemo” dipandu oleh Dian Marviana. Cuplikan film tersebut, peserta belajar bahwa anak muda memerlukan pengorganisasian. “Kekuatan anak muda adalah anak muda yang terdidik dan terorganisir,” tegas Dian.

Pengorganisasian komunitas adalah proses membangun kekuatan dengan melibatkan anggota komunitas melalui proses menemukan masalah, modal sosial, merumuskan, alternatif pemecahan masalah serta membangun institusi sosial yang demokratis, berdasarkan aspirasi, keinginan, kekuatan, serta potensi yang mudah dalam komunitas itu sendiri.

Remaja tahu program yang terbaik untuk remaja. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan wadah untuk remaja merancang dan melaksanakan programnya sendiri. Inilah inovasi yang ditawarkan oleh Dispora Kota Bandung yang tidak tentu ditemukan di Kota/Kabupaten lain di Jawa Barat.

Dasar pengorganisasian berjalan dengan siklus yang berkelanjutan. Ada daur yang dimulai dari diri sendiri, berpikir kritis, dan pemahaman bersama. Siklusnya adalah sebagai berikut:

  1. Mulai dari mitra strategis dan sendiri
  2. Ajak mereka berpikir kritis
  3. Lakukan analisis ke arah pemahaman bersama
  4. Capai pengetahuan kesadaran dan perilaku baru
  5. Lakukan tindakan
  6. Lakukan refleksi dan evaluasi

Dian mengingatkan, bahwa Dispora memfasilitasi untuk perencanaan. Anak muda diberikan ruang untuk pemberdayaan. Kelompok sebaya menjadi sumber edukasi terpercaya. Yang perlu diperhatikan pada isu masa kini adalah adanya permasalahan yang terus berulang.

“Jangan-jangan (sumber masalahnya) bukan remaja, (itu sebabnya) karena sistem yang tidak menyediakan wadah (sumber daya) untuk belajar,” jelasnya.

Setelah sesi lokakarya ketiga, perwakilan dari Pemuda Demokrat memperkenalkan profil organisasinya. Kemudian peserta ditugaskan oleh panitia untuk membuat Rencana Tindak Lanjut untuk diajukan kepada DISPORA Kota Bandung. (Rhaka Katresna, Toa Damai)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: