METRUM
Jelajah Komunitas

Enam Cara Bangunkan Sahur, dari Pocong Hingga Pengantin Sahur

BERAGAM tradisi atau kebiasaan yang penuh suka cita di Bulan Ramadan penuh berkah ini kembali bisa kita jumpai. Beragam budaya di Indonesia memang unik dan menarik. Bahkan saat membangunkan orang sahur juga di setiap daerah punya cara yang berbeda sekaligus unik. Yang pasti ga bakalan ditemui di negara lain.

Nah, berikut 6 cara membangunkan sahur yang paling unik di zaman now yang hanya dilakukan oleh orang Indonesia: 

Pengantin Sahur/harianriau.co

1. Pengantin Sahur

Tradisi ini biasa dilakukan oleh warga di Riau ini sudah ada sejak 50 tahun lalu. Sesuai namanya, tradisi pengantin sahur dilakukan dengan membawa arak-arakan pasangan pengantin berkeliling rumah warga. Tujuannya sederhana, yaitu membangunkan warga agar tidak lupa sahur.

Ternyata, pasangan pengantin sahur yang diarak tak hanya satu pasang, tapi bisa 6 hingga 7 pasang. Pasangan ini juga benar-benar didandani layaknya pengantin sungguhan. Biasanya acara arak-arakan akan dimulai jam 1 dini hari.

Uniknya yang berperan menjadi pengantin sahur adalah laki-laki. Satu laki-laki didandani layaknya pengantin pria dan yang lainnya didandani layaknya pengantin perempuan. Keunikan ini yang selalu ditunggu warga saat sahur karena membuat warga bisa tertawa atau terhibur.

Tradisi Koko’o/tagar.id

2. Koko’o Sahur

Ternyata meski zaman modern masih ada warga di Indonesia yang membangunkan sahur dengan menggunakan kentongan bambu. Setiap bulan Ramadan, ratusan warga di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, akan melakukan tradisi “Koko’o” (ketuk) sahur untuk membangunkan warga dengan membunyikan kentongan bambu. Warga akan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua serta becak motor (bentor) berkeliling kota untuk membangunkan sahur dengan tradisi Koko’o ini.

Orkes Lesung/ohayo.co.id

3. Orkes Lesung

Nah, kalau ibu-ibu di Pasuruan saat dini hari mereka akan membawa alu (tongkat kayu) lalu menuju ke tempat dimana terdapat lesung (tempat menumbuk padi terbuat dari kayu) berukuran panjang 2.5 meter. Ditempat ini sekelompok ibu-ibu akan memukul-mukulkan tongkat mereka pada lesung lesung tersebut hingga menghadirkan irama yang unik.

Suara musik dari orkes lesung ini akan terdengar keras menghentak. Hal itu dilakukan agar bisa didengar warga yang masih terlelap untuk segera bangun untuk menyiapkan hidangan sahur.

Tak jarang mereka juga menyanyikan lagu-lagu daerah atau melantunkan shalawat Nabi bersama-sama. Setelah dirasa cukup dan banyak warga yang sudah bangun, maka ibu-ibu ini akan membubarkan diri menuju rumah masing-masing. 

Orkes Keliling/goriau.com

4. Orkes keliling

Sebuah kampung di Madiun, para ibu rela bangun di pagi buta untuk mengingatkan waktu sahur pada warga di kampung mereka. Ibu-ibu ini akan berkeliling kampung dengan membawa peralatan dapur, mulai dari wajan, panci, sendok, piring hingga ember yang disebut orkes keliling. Mereka akan berkeliling sambil memukul perkakas dapur tersebut dan bernyanyi.

Seperti dikutip dari tempo.co, kegiatan ibu-ibu menjadi pemain orkes keliling saat sahur ini ternyata sudah menjadi tradisi di kampung mereka setiap bulan Ramadan. Warga setempat merasa terhibur dan menyebut kalau yang membangunkan ibu-ibu suasana sahur jadi terasa berbeda dibanding yang membangunkannya bapak-bapak atau kaum pria. Bisa aja aah…hehe

Dengo-dengo/detik.com/facebook

5. Dengo-dengo

Saat sahur warga kota Bungku, Morowali, di Sulawesi Tengah, tak pernah berkeliling kampung tapi akan berdiam di atas sebuah bangunan tinggi yang terbuat dari bambu yang disebut Dengo-dengo. Biasanya, sebelum memasuki bulan Ramadhan, warga akan bergotong royong membangun bangunan berukuran 3 x 3 meter dengan penyangga bambu, berlantai papan dan beratap daun sagu ini.

Dikutip dari antaranews.com, setiap dini hari ada 8 warga yang akan bergantian bertugas menabuh gong, gendang, dan juga rebana di bangunan tinggi ini. Bangunan dengo-dengo sengaja dibuat tinggi hampir 15 meter agar menghasilkan suara yang bisa terdengar sampai jauh hingga bisa membangunkan warga untuk melaksanakan sahur.

Bangunan dengo-dengo (dalam bahasa Indonesia berarti ‘tempat beristirahat) sudah dikenal warga Bungku sejak awal masuknya Islam di daerah tersebut sekitar abad ke 17 Masehi. Bangunan ini berfungsi untuk menyerukan kepada warga agar segera bangun untuk sahur. Sedangkan saat petang dengo-dengo biasanya berfungsi untuk tempat berkumpul sambil menunggu saat berbuka puasa.

tribunnews.com

6. Jadi Pocong

Rada-rada serem sih kalau saat dini hari harus ketemu pocong…hehehe, tapi hal ini memang terjadi di Banyuwangi maupun di Ponorogo, Jawa Timur. Dikutip dari Liputan6.com, warga yang akan membangunkan sahur akan berdandan mengenakan kostum pocong.

Di Banyuwangi warga tak hanya mengenakan kain serba putih, warga yang turut dalam arakan ini pun harus memulas wajah dengan bedak super putih dan riasan hitam di lingkaran mata. Mereka akan berkeliling dengan sambil membunyikan musik patrol. Tak ada warga yang merasa takut, tapi justru jadi terhibur.

Sedangkan di Ponorogo, pocong-pocong ini tak hanya berkeliling kampung tapi juga akan mengetuk pintu rumah warga yang tampak belum bangun untuk sahur. Beberapa warga sempat kaget, karena saat pintu dibuka yang membangunkan adalah pocong, meski gadungan tapi tetap saja bikin kaget sekaligus greget.

Jika pocong-pocong gadungan ini merasa lelah, mereka akan berhenti atau beristirahat di pos kamling sambil tetap bernyanyi dan menabuh alat musik untuk membangunkan warga. Tak jarang warga juga akan mengirimkan makanan dan minuman ke poskamling untuk sahur para pocong ini. (Vey Si Sendal Jepit)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: