METRUM
Jelajah Komunitas

Jurnalisme Presisi

Aliran Jurnalisme Berbasis Penelitian dalam Menyajikan Objektivitas dan Ketepatan Berita

DI Indonesia, jurnalisme presisi mulai muncul dan dikenal sekitar tahun 1970-an. Namun, karena berbagai faktor internal di dalam perusahaan penerbitan dan kondisi sosial politik yang ada (eksternal) menyebabkan jurnalisme ini belum banyak dapat dipraktikan oleh banyak perusahaan pers. Padahal, aliran jurnalisme ini dapat memberikan jaminan dengan menggunakan penelitian sebagai salah satu alat untuk menyajikan objektivitas dan ketepatan berita.

Di era reformasi, kini mulai banyak surat kabar dan majalah di Indonesia  mempraktikan jurnalisme presisi ini dengan cara menyajikan penelitian kuantitatif sebagai dasar tulisannya. Dari sinilah kemudian berkembang kegiatan pengumpulan pendapat atau public opinion polling. Wartawan kini dituntut menguasai teknik-teknik penelitian dan sekaligus dapat mengolah atau menganalisisnya untuk digunakan menjadi berita yang dijamin objektivitas dan ketepatannya.

Jurnalisme presisi antara lain mengamati konsep-konsep masyarakat. Konsep adalah idea, sebuah gambaran mental untuk sebuah abstraksi. Jenis kelamin, contohnya, adalah konsep yang mewakili gambaran mental kita atas laki-laki dan perempuan. Tingkah laku, sikap, pengetahuan khusus, pendidikan, pendapatan, suku atau ras, kesemuanya adalah konsep. Konsep ini bisa berubah setiap saat, sesuai dengan kesepakatan masyarakat, atau kelompok orang tertentu, seperti budaya, kewarganegaraan, atau sistem politik.

Beberapa konsep yang menjadi pengamatan jurnalisme presisi antara lain:

  1. Karakteristik penduduk, yang dikenal sebagai demografi meliputi jenis kelamin, suku atau kebangsaan, umur, pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan, status perkawinan, tempat tinggal dan lain-lainnya.
  2. Sikap, yaitu menyangkut perasaan positif atau negatif seseorang tentang sesuatu isu atau objek tertentu. Misalnya: “Saya suka Presiden SBY” atau “Saya tidak suka Presiden SBY”, “Saya menentang PP 37 tahun 2006”, dan sebagainya.
  3. Kepercayaan, yaitu apa yang dipikirkan seseorang tentang sesuatu obyek atau isu tertentu. Contohnya, “Kenaikan harga BBM akan menyengsarakan rakyat kebanyakan”, “Pembangunan mal di daerah Kelapa Gading akan menyebabkan banjir di musim penghujan”, dan lain-lainnya.
  4. Tingkah-laku, agak berbeda dengan sikap, tingkah laku atau kebiasaan ini dapat dilihat langsung oleh reporter, misalnya berapa kali seseorang anggota DPR RI melakukan interupsi, dan bagaimana ketua sidang menanggapinya, berapa kali sekelompok masyarakat mengajukan protes terhadap sebuah tindakan yang tidak mereka sukai dan sebagainya. Pengukuran pendapat ini dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada warga masyarakat untuk mengetahui apa reaksi dan yang telah mereka lakukan. Namun demikian cara menanyakan langsung demikian ini amat memerlukan waktu serta biaya maupun tenaga. Para peneliti sering berasumsi bahwa masyarakat relatif tepat dalam mengamati tindak tanduk atau kebiasaan mereka sendiri.

Konsep itu selain dapat berubah juga beragam tergantung dari lingkungan dan metode apa untuk menelitinya. Contohnya jenis kelamin, selain dibedakan dari perbedaaan fisik, juga dapat diamati dari psikologi sosial, misalnya dari sisi kejantaan dan kefeminiman.

Dalam sebuah survei jurnalisme presisi, ukuran atau indikator adalah sebuah pertanyaan. Bila kita akan mengukur konsep umur, kemungkinan kita akan bertanya kepada seseorang: “Berapa usia anda?” Pertanyaan itu adalah ukuran anda terhadap usia tersebut. Tidak ada cara tunggal untuk mengoperasionalkan konsep. Oleh sebab tidak semua orang suka ditanyai berapa usianya, maka untuk mendapatkan jawaban kita dapat mempelajari tanggal kelahiran mereka atau akte kelahirannya. Kendati tidak terlalu praktis, tapi data yang kita dapatkan sangat akurat.

Contoh lainnya. Kita berasumsi bahwa ada ketakutan akan tindak kriminalitas. Setelah mengendapkan pikiran maka mungkin kita akan berkesimpulan bahwa ketakutan akan kriminalitas adalah keadaan dari psikologi yang menghasilkan kecemasan atau ketegangan pada seseorang. Ini adalah definisi abstrak kita. Bagaimana mengukurnya? Mungkin kita akan bertanya: “Adakah daerah sekitar sini di mana anda merasa takut berjalan sendirian?” dan kemudian bertanya karena apa? Atau Anda lebih akurat lagi dengan bertanya apakah mereka lebih takut lagi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya?

Banyak masalah yang sulit kita rumuskan dengan jelas dan terang, misalnya masalah pornografi, karena bila kita tanyakan kepada masyarakat, maka jawabannya akan berbeda-beda dan sulit untuk disimpulkan.(M1)***

komentar

Tinggalkan Balasan