Pembangunan Jalur Khusus BRT Bandung Dimulai Februari, Dishub Antisipasi Kemacetan
KOTA BANDUNG (METRUM) – Dishub Kota Bandung memastikan sejumlah langkah antisipasi disiapkan untuk menjaga kelancaran lalu lintas selama pembangunan jalur BRT berlangsung.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Rasdian Setiadi menyampaikan bahwa pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung mulai memasuki tahap pengerjaan fisik. Pekerjaan ini terutama difokuskan pada pembangunan jalur khusus (on corridor) yang diperkirakan berdampak pada arus lalu lintas di kawasan pusat kota.
Rasdian menjelaskan, dari rencana awal sebanyak 20 rute BRT, saat ini akan dijalankan 18 rute.
“Rute BRT ada 18 rute dari rencana 20,” ujar Rasdian.
Dari jumlah tersebut, sekitar 21 kilometer akan dibangun sebagai jalur on corridor atau jalur khusus BRT di sejumlah ruas jalan utama, serupa dengan sistem BRT yang diterapkan di Jakarta.
“Dari 18 rute itu ada 21 kilometer yang on corridor atau jalur khusus,” jelasnya.
Menurut Rasdian, pengerjaan fisik jalur khusus, termasuk pembangunan halte dan separator, direncanakan mulai berlangsung pada Februari, setelah proses kontrak dengan Kementerian Perhubungan rampung.
“Yang on corridor saat ini masih proses kontrak. Rencananya kontrak bulan Februari, termasuk untuk pembangunan halte dan separator,” katanya.
Ia mengakui, pembangunan tersebut hampir dipastikan akan memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah titik.
“Pembuatan jalur on corridor dan halte pasti berdampak pada kemacetan, ini yang harus kita antisipasi,” ujarnya.
Sejumlah ruas jalan yang akan masuk dalam jalur on corridor BRT di antaranya Jalan Sudirman, Rajawali, Pasir Koja, Otista, Dewi Sartika, Banceuy, Naripan, Ahmad Yani, hingga Jalan Jakarta.
Untuk mengantisipasi dampak kemacetan, Dishub Kota Bandung akan menyiapkan pengaturan lalu lintas dengan menempatkan petugas di lapangan serta berkoordinasi dengan pihak kepolisian dalam rekayasa lalu lintas.
“Nanti memang harus banyak petugas di lapangan dan koordinasi dengan kepolisian untuk pengaturan lalu lintasnya,” tegas Rasdian.
Selain itu, Dishub juga akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) melalui Forum Lalu Lintas pada Februari mendatang. FGD tersebut akan membahas langkah antisipasi jangka pendek, menengah, dan panjang selama pembangunan BRT berlangsung.
“FGD Forum Lalu Lintas akan kita laksanakan untuk membahas antisipasi secara komprehensif,” ujarnya.
Ke depan, pengaturan lalu lintas juga akan didukung oleh penerapan Intelligent Traffic System (ITS) berbasis kecerdasan buatan pada lampu lalu lintas. Sistem ini memungkinkan pengaturan lampu secara otomatis menyesuaikan panjang antrean kendaraan.
“Lampu merah berbasis AI sudah diuji coba sejak tahun lalu. Kalau antrean panjang, lampu bisa otomatis berubah hijau,” tuturnya.
Rasdian menilai, sistem tersebut berpotensi membantu mengurangi tingkat kemacetan selama masa pembangunan jalur BRT. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.